Sawang Sinawang
Ada sebuah ajaran jawa lama masih jadi senjata mujarab hingga hari ini: urip mung sawang sinawang. Tulisan ini bermaksud mendiskusikan ajaran tersebut.
Ketika orang-orang mulai gelisah soal dampak buruk media sosial, saya termasuk yang sulit diyakinkan. Saya selalu jadi yang belakangan dalam melompat ke tren baru. Akun facebook saya dibuat secara paksa oleh dua sahabat saya. Supaya saya ikut masuk ke dunia internet saat itu yang sedang seru-serunya, mereka mengancam untuk menggunakan akun facebook atas nama saya tersebut untuk meneror crush saya. Tapi mereka sebetulnya orang baik yang tidak punya maksud lain selain ingin saya join kehidupan maya dengan cara yang ngeledek. Setelah saya rawat akun tersebut, mereka tidak pernah menyentuh akun saya lagi, padahal password yang mereka buat 15 tahun lalu itu masih saya gunakan sampai hari ini.
Saat beberapa tahun kemudian orang mulai merambah twitter, saya menolak lagi. Saya waktu itu mulai keranjingan facebook dan segala fanspage konyolnya, tapi menurut saya ada perbedaan jauh antara konsep "berteman" di facebook dan "mengikuti" di twitter. Alasan saya sebetulnya waktu itu sederhana. Saya bukan anak populer, tapi saya tidak suka kalah telak. Ketika saya mendapati arena-arena kompetisi yang saya yakin saya tidak bisa menang di dalamnya, saya memilih untuk tidak pernah masuk ke sana samasekali. Benar saja, pasca konsep follow-followan twitter, kasta pergaulan di sekolah menjadi eksplisit karena ternilai dengan angka. Sampai sekarang, saya tidak punya akun twitter betulan.
Waktu saya membuat instagram di tahun 2016, saya juga harus mengalami dulu ajakan teman-teman yang sudah lebih dulu bisa membentuk komunitas maya yang tidak bisa saya masuki. Saya masih sangat ragu karena konsepnya follow-followan seperti twitter. Saya akhirnya masuk instagram karena itu platform visual dan waktu itu saya masih aktif menggambar.
Barangkali karena masuk media sosial dengan penuh pertimbangan, karena tidak pernah mengambil keputusan atas ini untuk sekedar seru-seruan, saya cukup denial soal dampak negatifnya. Silih berganti teman-teman yang mengajak saya main medsos atau orang-orang yang terlihat sangat menikmati interaksi di dalam media ini mengakui manfaat-manfaat positif dari puasa medsos. Ternyata tenang juga, kata mereka, hidup tanpa terus-terusan benchmarking kisah hidup sendiri dengan kisah hidup orang lain.
Tapi saya berkilah.
Konsep balapan kisah hidup siapa paling bagus, konsep mengurutkan manusia sesuai dengan jumlah followernya, adalah ide-ide yang saya tolak dari medsos ketika belum join dulu. Stratifikasi sosial punya dampak yang cukup negatif di kehidupan nyata saya, oleh karena itu, di manapun agensi saya bisa dieksekusi, saya sekuat tenaga menolak bentuk-bentuk pengkastaan. Saya terus-terusan berkilah kalau saya tidak punya masalah hanya punya sedikit follower atau post saya hanya sedikit yang like. Saya berkilah saya tidak keberatan orang lain punya hidup yang lebih gilang gemilang. Saya berkilah saya tidak akan melanggengkan sistem ini dengan menolak pamer di medsos. Tapi apalah arti sebiji manusia melawan sistem yang sudah dibuat untuk memposisikan manusia demikian. Instagram terus berkembang semakin toksik dan demanding, tapi saya belum juga tertarik untuk puasa medsos.
Dalam menavigasi huru hara dunia medsos ini, nasihat soal hidup yang sawang-sinawang adalah preskripsi yang sempurna. Sekilas, sawang-sinawang yang artinya literalnya saling pandang memandang ini adalah nasihat yang sederhana. Orang di medsos hanya menunjukkan bagian-bagian baik dari hidup mereka dan menutupi strugglenya. Maka dari itu, saya sempat meremehkan nasihat ini: saya tahu fakta itu, maka dari itu saya menolak menjadi kerumunan itu. Saya menganggap instagram sebagai mini blog tempat bercerita baik dan buruk kehidupan. Tapi ada layer lain. Bahkan ada banyak layer lain dari urip mung sawang-sinawang.
Ajaran tersebut bukan hanya soal menangkal bagaimana menyikapi hidup orang yang sepertinya mulus tanpa prahara, sementara hidup kita ugal-ugalan. Kalau dilengkapi dengan pepatah-pepatah tentang membanding-bandingkan hidup lainnya, seperti "rumput tetangga selalu lebih hijau" dan "gajah di pelupuk mata tak nampak sementara kuman di seberang lautan nampak," konteks ajaran ini sebetulnya begitu kaya.
Hidup kita di media sosial gelisah bukan hanya karena orang sengaja menampilkan hidup mereka sempurna tanpa apes dan antagonis, tapi karena cara masing-masing orang memandang dunia begitu unik. Media sosial kita bisa ramai oleh teman-teman yang baik yang berbagi konten edukasi dan mini esai yang cerdas, tapi membacanya ketika baru saja menerima revisian chapter penuh coret-coretan bisa terasa menjengkelkan. "Kok gampang sekali dia membuat argumen yang provokatif tapi kuat begini," kita menhela napas panjang. Karena setia pada kepercayaan bahwa media sosial harus berisi baik dan buruk, kita foto revisian itu di story dengan emoticon menangis yang besar. Pun bagi suatu kawan lama yang sekedar follow-followan tanpa pernah bertukar sapa itu, yang lihat stori kita sambil jugling dua pekerjaan karena menjadi tulang punggung keluarga besar, neraka revisi kita adalah surga studi lanjut yang tidak berani dia impikan.
Poin yang mau saya sampaikan, kawan-kawan, sawang-sinawang bukan hanya sekedar ajaran untuk menyejukkan hati dari tukang pamer yang sengaja ingin membuat hidup kita terasa semakin sengsara dari aslinya. Kisah sejinak apapun yang kita bagi, yang terlihat seperti tragedi abad ini atau humor paling trendi bagi kita, bisa membuat hidup orang terasa semakin berat. Sawang-sinawang seperti memagari bahwa di antara jutaan manusia yang sedang olahraga jempol di atas layar hp yang licin ini, yang perlu kita pedulikan hanya diri kita sendiri. Akhir-akhir ini saya merasakan, menjalani tantangan-tantangan hidup sehari-hari di luar media sosial, tanpa melaporkannya pada dunia lewat satu dua stori, mungkin sepi dan membosankan, tapi rewarding karena cepat selesai! Karena toh yang memberi kita nikmat pasca suatu pekerjaan selesai bukan dopamin, tapi Sang Pencipta Segalanya.
Entah harus kita apakan dunia tempat kita telah banyak bernaung beberapa tahun belakangan ini kalau menjaga kewarasan di dalamnya ternyata begini sulit. Mungkin harus sering-sering istighfar dan ingat kalau urip mung sawang - sinawang.
Komentar
Posting Komentar