10 Februari 2026
Hari ini sebenarnya hari ulang tahun sahabat saya. Suatu hari di bulan Juni 2019, dia meninggal dunia. Kalau umurnya sedikit lebih panjang, hari ini usia kami yang lahir di tahun berbeda menjadi sama: 29. Tahun sakral dan tahun tragis. Tahun terakhir di usia 20-an. Sayangnya, ketika saya terus menua, dia tetap awet muda di usia 22.
Saya tidak punya banyak justifikasi untuk kematian di usia semuda itu. Setiap kali kami bertemu, kami selalu bercanda soal maut karena ia terlihat begitu jauh. Dua minggu sebelum ia berpulang, kami masih menandaskan petang dan bolos traweh untuk main UNO di kali kedua buka bersama kami bulan puasa tahun itu. Ia agak terlihat pucat, tapi tawanya masih menggema. Rupa-rupanya tidak ada dari usia muda, tenaga, badan tegap, dan tawa yang renyah itu yang bisa dipegang ketika berhadapan dengan ketetapan Tuhan. Menerima sahabat saya meninggal di usia semuda itu sudah merupakan hal yang sulit. Tapi lebih sulit lagi menghentikan kepala untuk tidak bertanya: kenapa dia harus pergi semuda itu?
Sekarang, di hari-hari hujan sebagaimana selalu hari-hari ulang tahunnya sejak dulu, mungkin saya punya sedikit jawaban dari pertanyaan itu.
Kalau ada satu kata yang paling identik dengan pertemanan kami, itu adalah mencipta. Kami sekelas di kelas 7 lalu kemudian bergabung di club extrakurikuler yang sama. Club Karya Ilmiah Remaja. Sebenarnya kami bukan yang super tertarik dengan eksperimen sains dan lomba cerdas cermat. Tetapi, nun di 2009 silam, KIR merupakan satu-satunya ekstra kurikuler kreatif yang non-fisik di sekolah kami. Memang ada ekskul seni lain seperti dance dan paduan suara, tapi bobot kreativitas di sana tidak terlalu besar. 10 %mungkin isinya merancang aransemen dan koreografi, tapi 90% sisanya adalah soal menghapal dan latihan berulang-ulang. Sementara itu, di KIR, kami merancang eksperimen, merancang demonstrasi untuk menarik anggota baru, belajar seni audiovisual untuk mendokumentasikan kegiatan ilmiah kami, punya ruang untuk membicarakan hal-hal nerdy, dan yang paling penting, punya akses ke laboratorium, ruang paling keren se-sekolah setelah studio band! Ekskul biasanya hanya satu-dua jam, tapi kami belum akan berhenti mengobrol sebelum diusir satpam. Di sela-sela obrolan tersebut, kami mencipta. Kami bersama sahabat-sahabat KIR kami lainnya mengerjakan tugas seni bersama-sama, menggambar bebas, dan menciptakan permainan-permainan baru. Kalau sudah masuk surga nanti, rasanya ingin aku minta pada Allah untuk memutarkan percakapan-percakapan waktu itu lagi. Saya lupa isinya, tapi saya ingat perasaannya. Senang, bangga, dan antusias menjadi satu. Rasanya kami bisa mencipta apa saja dan menaklukan dunia.
Di SMA, penciptaan kami semakin menjadi-jadi. Kami masuk kelas akselerasi, jadi harusnya kami tidak punya waktu selain untuk belajar dengan ngebut mengejar nilai ambang batas yang setinggi langit. Tapi waktu itu memang satuannya bukan detik, tapi kebermanfaatan. Pada waktu-waktu luang kami yang sempit, kami terus-terusan mencipta. Kami menggarap tugas-tugas seni yang bobot nilainya kecil dengan dedikasi seorang profesional. Aku menulis beberapa drama, sahabatku ini mengorkestrasi sebuah pertunjukan tarian. Kami jadi penari, jadi aktor, jadi perancang busana, perancang panggung, dan make up artist. Puncaknya, kami punya wadah kreatif yang jauh lebih sesuai daripada KIR, yaitu klub kebudayaan jepang dan klub seni rupa. Untuk demonstrasi klub seni rupa kami, sahabatku ini pernah membuat miniatur menara Eiffel setinggi 1,5 meter dengan kerangka besi betulan. Saya lupa semua pelajaran di kelas akselerasi yang melelahkan itu, tapi saya ingat semua proyek-proyek kami.
Sungguh dunia yang berbeda bukan dari dunia kita hari ini yang penuh sesak oleh kegiatan mengonsumsi? Buat saya, dunia ini berubah di tahun itu, tahun ketika dia meninggal, tahun 2019. Di satu sisi, itu adalah tahun saya melepas masa kanak-kanak yang naif. Sejak tahun itu, saya bekerja. Segala hal menjadi serius. Kami memanggul tiap-tiap konsekuensi dari perbuatan kami sendiri. Guru dan orang tua tiba-tiba menjadi pelatih di luar lapangan ketika kami harus berlarian mengejar takdir kami. Di sisi lain, yang ada kaitannya dengan masa remaja penuh penciptaan, ia adalah dimulainya masa muda penuh konsumsi. Untuk pertama kalinya, saya memiliki kekuatan sendiri berupa uang dan kontrol atas itu. Sebagai manusia kelahiran abad lalu yang tumbuh di tahun-tahun pasca krisis moneter, generasi kami di level ekonomi ini banyak diliputi kekurangan materi tapi terus-terusan terpapar gaya hidup kelas atas lewat media. Dulunya, penciptaan-penciptaan kami adalah upaya untuk menciptakan penawar dari berbagai macam kekecewaan. Kami adalah generasi pertama yang begitu dekat dengan kenyataan bahwa dunia ini luas dan bisa dijelajahi, tapi secara finansial tidak mampu untuk menjelajahinya. Kami juga generasi pertama yang terpapar internet, yang mengetahui secara real-time apa saja yang ada di luar sana dan tidak di kami. Diantaranya seniman yang bisa hidup mapan, udara yang bersih, taman-taman kota, pedestrian, pendidikan tinggi, dan berbagai kenyamanan hidup lainnya. Sebagai kompensasi, kami menulis cerita-cerita berlatar Eropa, menggambar scene-scene taman dengan lampu dan bangku besi, membuat komik berlatar Jepang, dan membangun miniatur menara Eiffel.
Memang ya, masa itu adalah masa persiapan untuk zaman yang akan datang. Tidak pernah kami sangka, dengan kemampuan finansial keluarga kami yang tidak memungkinkan, dengan jatuh-bangun perjalanan masuk dan bertahan menempuh pendidikan tinggi di universitas, tiba juga saatnya bagi kami untuk menaklukan musuh-musuh sombong kami semasa remaja: negara-negara maju. Di tahun 2018, saya sedang melamar beberapa beasiswa untuk S2 ke Eropa, dan sahabat saya ini sedang rajin pelatihan bahasa Jepang karena mau dikirim perusahaannya ke sana. Dua minggu setelah saya ikut menyolati dan menggiring jenazahnya, saya berangkat ke Belanda, sementara dia lebih memilih ke luar dunia daripada ke luar negeri. Anjing betul lah cerita hidup kami.
Ada satu sisi lagi soal bagaimana 2019 merupakan tahun transisi yang luar biasa. Di tahun itu, keluar franchise terakhir yang saya tonton dari Avengers: Avengers Endgame. Entah apakah ada atau tidak hubungan antara franchise superhero ini, Covid-19, dan orang-orang ultra kaya menjijikkan kasusnya naik ke permukaan baru-baru ini. Kalau memang ada, maka ini adalah penanda hidup yang Tuhanku cukupkan untuk sahabatku yang disayangi-Nya. Dia barangkali adalah salah satu orang paling gigih dan optimis yang pernah kukenal. Di hari terakhir kami bertemu dengannya, ia bertindak seperti dosen pembimbing akademik kami. Ia bertanya apa yang kami impikan untuk setahun kedepan, dan berjanji akan menagihnya tahun depan. Kami lalu dengan setia mengungkapkan mimpi-mimpi kami kepadanya. Lepas itu ia bilang padaku, tidak ada diantara kita yang masa depannya tidak baik. Jiwa yang optimis itu memang sepertinya tempatnya ada di sebelum tahun 2019. Sejak Covid, dunia ini sudah berubah, Sahabatku. Dia bukan lagi gunung tinggi yang kita ingin taklukan dulu. Ia adalah laut ganas yang badai dan topannya tidak tertebak. Sejak kau pergi, sudah berkali-kali kukira kiamat tiba.
Salah satu kiamat itu adalah kiamat mencipta. Kami sekarang mainan social media, semacam facebook tempat kita buat fanspage untuk Wikita Nilly dulu, tapi social media hari ini memakan habis waktu kami. Kami tertawa, dengan lelucon-lelucon tingkat tinggi yang pastinya akan kau sukai juga, tapi kami tertawa dan berhenti setiap sebentar-bentar seolah ada tombol on-off di belakang kepala kami. Tidak ada kesinambungan, tidak ada cerita yang panjang. Karena waktu kami habis, kami berhenti mencipta. Kami berhenti masak, dan hanya makan nasi ayam. Nasi ayam yang dulu kita anggap mewah ketika kuliah itu sekarang jadi seperti pakan manusia. Ia lebih murah dari nasi sayur yang dulu kita anggap makanan tanggal tua. Kami berhenti menggambar, karena sekarang AI bisa menggambar. Kami berhenti merancang baju karena Cina membuat segala macam baju dan barang-barang lucu lainnya. Kalau kau punya uang, dunia hari ini seperti surga bagi kita dulu, tapi ketika hidup di dalamnya, sepertinya ini lebih mirip neraka. Sejak 2019, sejak ekonomi daring disuburkan oleh iklim nir-kontak pandemi, 80% keinginan kami bisa tercipta dengan sentuhan jari. Sebagai gantinya, kami bekerja siang malam, hingga beberapa dari kami mati kelelahan. Kupikir-pikir lagi, kami sedang krisis hari ini, krisis yang ada tidak untuk kau alami, krisis bengong. Soalnya dari bengong itu lahir kreativitas yang memberontak
dan mencipta.
Terima kasih karena sudah jadi sosok yang mengingatkanku tentang kenikmatan mencipta. Sampai nanti.
Komentar
Posting Komentar